Buat anda para pria jangan buru-buru mengatakan ‘tidak’ sebab akan kita uji nanti dalam tulisan ini. Istilah male chauvinist ini baru lahir kira-kira pada tahun 60an untuk menggambarkan pria yang menganggap wanita lebih inferior daripada laki-laki,sehingga semua sikap, perkataan, perbuatannya ’merendahkan’ kaum wanita. Kata chauvinisme sendiri sebelumnya dipakai untuk menggambarkan rasa nasionalisme yang sempit, dan diambil dari nama Nicolas Chauvin seorang loyalis Napoleon Bonaparte yang konon masih terus secara fanatik mengagung-agungkan Napoleon bahkan setelah pemerintahannya dijatuhkan. Mungkin waktu kita duduk di bangku sekolah menengah masih ingat pelajaran sejarah semboyan chauvinisme ini yaitu Right or wrong is my country.

Istilah male chauvinisme timbul karena wanita yang tiba-tiba menyadari bahwa dia tidak diperlakukan secara adil dan setara. Maka timbullah gerakan feminism yang antara lain dipelopori oleh Betty Friedan pada tahun 1960an.Didalam kultur kita sendiri ada pepatah bahasa Jawa yang kurang lebih mengatakan tugas wanita itu tidak lebih berkutat disekitar: dapur,sumur,kasur,pupur. Artinya wanita itu seakan ditakdirkan untuk melayani suami untuk memasak,mencuci,memuaskan di tempat tidur dan berdandan buat suaminya.

Ada lagi istilah garwo yang sebetulnya merupakan kata yang luhur untuk menyatakan ’isteri’ dan sering diberi arti sigare nyawo atau ’belahan jiwa’. Didalam bahasa Inggrispun ada kata ’the other half ’ yang bermakna sama. Tapi sayangnya suka diberi embel-embel lagi suwargo nunut, nerako ketut, yang artinya ’kalau kebetulan sang suami ke surga dia cuma sekedar numpang, tapi kalau sang suami ke neraka dia harus ikut’.

Di Palembang pun ada istilah yang ’kocak’ untuk menyebutkan ’isteri’, sekalipun sang pengucap tidak menyadari bahwa ini salah satu bentuk male chauvinisme yaitu dia mengatakan ’orang rumah’. Jadi kesimpulannya kalau perempuan itu ya tempatnya di rumah.

Anda pernah mendengarkan lagu nostalgik Ismail Marzuki berjudul ’Sabda Alam”? Didalam salah satu baris liriknya disebutkan : Wanita dijajah pria sejak dulu. Dijadikan perhiasan sangkar madu dan seterusnya. Banyak yang memprotes kalimat ini, namun sebetulnya inilah ’potret’ yang diabadikan oleh Ismail Marzuki pada zamannya. Bahkan sampai zaman sekarang ini, kalau mau jujur masih banyak pria yang ’melarang isterinya bekerja’ dan menyarankan untuk mengurusi anak-anak dan rumah tangga.

Di negara Barat gerakan kesetaraan jender ini terus berkembang. Bahkan istilah dalam bahasa yang dahulu kala dianggap biasa saja digugat karena sangat sexist karena memakai akhiran –man seperti policeman, fireman,businessman,repairman sehingga sekarang diganti dengan police officer, firefighter, business-person dan repairer. Juga istilah Ms (untuk wanita yang belum menikah) dan Mrs (untuk wanita yang sudah menikah) digugat, karena untuk pria baik yang belum maupun yang sudah menikah tetap sama yaitu Mr. Akhirnya diputuskan penggunaan Ms baik untuk wanita yang belum maupun yang sudah menikah.

Didalam masyarakat Chinese, male chauvinism ini sangat dominan sekali. Buat mereka memperoleh bayi laki-laki jauh bernilai daripada bayi perempuan. Bahkan di zaman modern ini kalau ditanya mereka akan mengatakan ’tidak jadi soal bayi laki atau perempuan, tapi kalau bisa sih laki-laki’. Ini sebenarnya tidak lepas dari pengaruh ajaran Confusian yang memberi fatwa : ’lelaki mengurusi dunia luar, wanita mengurusi di dalam rumah tangga, wanita harus taat kepada ayahnya sebelum menikah, taat kepada suaminya setelah menikah dan harus juga taat kepada anak lelakinya kalau suaminya meninggal’ Di Korea bahkan male chauvinisme ini lebih kuat lagi, dan sudah ’harga mati’ wanita tidak boleh bekerja dan diarahkan untuk mengurusi rumah tangga.

Kalau mendengarkan cerita kakek-kakek kita dahulu sering kali tercetus kata-kata soal pendidikan tinggi untuk anak perempuan : ”Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya nanti masuk dapur juga”. Bagaimana di zaman sekarang ini ? Tentu sudah banyak sekali perubahan,meskipun tidak bisa dikatakan wanita sudah diperlakukan dengan betul-betul setara. Coba lihatlah pada KTP yang mencantumkan pekerjaan seorang wanita yang menikah : ibu rumah tangga ! Buat saya ini kata yang ironis karena inilah satu-satunya pekerjaan yang jam kerjanya 24 jam sehari tanpa diberi gaji! Para pria (saya juga pria) jangan protes duluan ya. Saya tahu para suami zaman sekarang juga ikut mengurusi bayinya,ikut membantu memasak,ikut mengepel rumah dan sebagainya. Tetapi actually we can do more.

download file