SAMA’

Sama’, yaitu tarian gasing yang terkenal dari Tarekat kelahiran Turki yakni Tarekat Mawlawiyah. Tarian Mawlawi yang merupakan upacara spiritual ini di bagi kedalam dua bagian, yakni :
1. Pertama; Naat, yaitu sebuah puisi yang memuji Nabi Muhammad SAW, improvisasi ney (seruling) atau taksim dan Lingkaran Sultan Walad.
2. Kedua; Bagian kedua ini terdiri dari :
a. Empat salam
b. Musik instrumental akhir
c. Pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an
d. Do’a
A. Bagian Pertama :
1. Naat.
Naat dapat dikatakan semacam musik religius. Naat dalam musik Mawlawi disusun oleh Buhuriz Musthafa’ Itri (1640-1712), tetapi puisinya adalah puisi Rumi. Naat adalah pujian terhadap Nabi Muhammad SAW, yang terjemaahannya seperti ini :
Oh tuan kami, wali Tuhan,
Engkau adalah kekasih Tuhan,
Nabi sang Pencipta tiada tandingan
Engkau adalah wujud murni
Yang telah dipilih di antara makhluk-makhluk Tuhan.
Oh sahabat dan sultanku,
Engkau adalah kekasih sang Abadi
Wujud dalam semesta yang amat tinggi
Engkau yang terpilih diantara nabi-nabi dan cahaya mata kami
Oh tuan, wali Tuhan!
Oh sahabat dan sultan,
Utusan Tuhan,
Engkau tahu betapa lemah dan tak berdayaannya umatmu.
Engkau adalah pembimbing orang-orang tak berdaya dan rendah dalam semangat,
Wali Tuhan, sultan kami,
Engkau adalah pinus di taman para nabi
Engkau adalah musim semi di dunia ilmu
Engkau adalah cendana dan pohon mawar di taman para Nabi.
Engkau adalah keliling dunia ats
Syamsi Tabriz telah memuji kebesaran Nabi
Engkau adalah yang telah dibersihkan, yang terpilih, tegar dan agung
Oh engkau penawar hati
Wali ilahi!
2. Taksim.
Taksim adalah sebuah improvisasi terhadap setiap makam, atau mode, yaitu konsep penciptaan musik yang menentukan hubungan-hubungan nada, nada awal, yang memiliki kontor dan pola-pola musik. Taksim merupakan bagian yang sangat kreatif dari upacara Mawlawi.
3. Lingkaran/putaran Sultan Walad.
Lingkaran/putaran Sultan Walad ini disumbangkan kepada upacara oleh putra sulung Mawlana, Sultan Walad. Selama putaran ini, para darwisy yang ikut bagian dalam putaran tari, berjalan mengelilingi sang samahane atau ruang upacara, tiga kali dan menyapa satu sama lain di depan pos (lokasi tempat pemimpin tekke atau pimpinan upacara berdiri). Dengan cara ini mereka menyampaikan “rahasia” dari yang satu kepada yang lain.
B. Bagian Kedua :
1. Empat Salam:
a. Salam Pertama. Melodi biasanya panjang. Irama yang digunakan biasanya disebut putaran berjalan (Devr-i Revan). Bitnya adalah 14/8.
b. Salam Kedua. Pola irama dari salam ini disebut “Evfer” dan terdiri dari 9/8 bit.
c. Salam Ketiga. Dibagi ke dalam dua bagian yang meliputi melodi dan irama. Bagian pertama disebut “putaran” (the cycle), bitnya 28/4. Bagian kedua dari salam ketiga ini disebut “Yoruk Semai”, bitnya adalah 6/8.
d. Salam Keempat. Pola irama ini juga “Evfer” (9/8), yakni irama lambat dan panjang, untuk menurunkan elastasi sehingga sang darwisy bisa konsentrasi kembali. Tiap-tiap salam dihubungkan melalui nyanyian.
Pada bagian pertama dan kedua, seleksi diambil dari Divân-i Sayms atau Matsnawi, pada bagian ketiga, puisi Mawlawi lain dinyanyikan.
C. Musik Instrumental Terakhir
Dengan berakhirnya salam keempat berarti bagian oral selesai. “Yuruk Semai” kedua dalam pola-pola 6/8 merupakan akhir dari upacara. Setelah seleksi instrumental ini ada taksim seruling. Kadang-kadang musik ini dapat dimainkan melalui alat-alat musik petik (senar).
D. Membaca Al-Qur’an dan Do’a
Setelah musik selesai, seorang hâfizh di antara para penyanyi, membaca ayat-ayat al-Qur’an. Sama’ (tarian gasing) terus berlangsung sampai bacaan al-Qur’an dimulai. Ketika hâfizh mulai bacaan Qur’annya, para penari sama’ tiba-tiba berhenti dan mundur ke pinggir ruangan dan duduk. Setelah ia selesai, pimpinan sama’ berdiri dan mulai berdoa di depan sang syaikh, doa yang dibacanya biasanya cukup panjang. Doa ini biasanya ditujukan untuk kesehatan dan hidup sang sultan, atau para penguasa Negara.
Sekalipun sama’ dalam bentuk tarian berputar, telah dimainkan oleh banyak tarekat sufi, tetapi oleh Rumi telah menjadikan sebagai ciri khas dasar tarekatnya. Akibatnya, tarekat Rumi di Barat dikenal sebagai The Whirling Darvish (Para Darwisy yang Berputar). Tarian suci ini dimainkan oleh para Darwisy dalam pertemuan-pertemuan sebagai dukungan eksternal terhadap upacara-upacara ritual mereka.
Secara lebih utuh, Talat Sait dan Metin And, seorang professor terkemuka di jurusan Drama Universitas Ankara, menggambarkan tarian suci ini sebagai berikut :
Tarian yang dilakukan oleh para Darwisy dimulai dengan memohon restu terlebih dahulu kepada pimpinan, yaitu dengan membungkukkan badan. Pada mulanya tangan mereka bersilang dan di tempelkan ke dada dengan posisi tangan mencengkeram bahu, lalu tangan mereka mulai terangkat. Kaki-kaki mereka yang bertelanjang merapat. Pada tahap awal mereka bergerak sangat lambat, namun secara perlahan pegangan tangan mereka meninggalkan bahu dan berangsur-angsur tangan mereka merentang lurus dan membentuk posisi horizontal. Tangan kanan mereka lalu menengadah dengan telapak tangan ke atas, sedang tangan kiri diturunkan ke bawah.
Posisi tersebut secara simbolik menggambarkan pengaruh dari langit yang diterima dengan telapak tangan terbuka dari atas, diteruskan ke bawah menuju dunia oleh tangan yang lain. Kadang kala satu tangan di buka dan tangan lain menekan dada. Para Darwisy berputar-putar dengan bertumpu secara bergantian pada tumit, sementara kaki yang lain mengupayakan gerakan berputar.
Mata-mata mereka tampak sayu atau tertutup dan kepala mereka sedikit condong pada salah satu pundak. Semakin mereka mempercepat putaran, rok putih mereka yang panjang itu berkembang sempurna laksana payung yang terbuka. Pemimpin sama’ (Sama Zembasi), tetap memakai jubah tetapi tak ikut menari bersama Darwisy. Ia memberi aba-aba, dan ketika aba-aba (isyarat) penghentian diberikan, maka para penari berhenti seketika. Nasr, mengatakan bahwa tarian Mawlawi dimulai dengan nostalgia tentang Tuhan, lalu berkembang menjadi keterbukaan sedikit demi sedikit terhadap limpahan rahmat dari surga, dan akhirnya menghasilkan fanâ’ dan penyatuan ke dalam diri Sang Kebenaran.
Dari sudut simbolisme, tarian berputar Mawlawi ini mengibaratkan kosmos, karena menurut Rumi seluruh kosmos adalah misteri yang sedang menari :
Setiap atom menari di darat dan di udara
Sadarilah baik-baik, seperti kita,
Ia berputar tanpa henti di sana
Setiap atom, entah sedih atau bahagia
Putaran matahari adalah ekstase
Yang tak terperikan darinya.
Ada metafora lain yang berkenaan dengan upacara tersebut. Tari Mawlawi, misalnya, dikatakan menyimbolkan batu nisan, jubahnya adalah peti jenazah dan bajunya adalah kain kafannya. Serulimg buluh (nei) bukan saja merepresentasikan terompet mitologis (sur) untuk menghidupkan kembali orang mati pada hari kebangkitan, tapi juga menyimbolkan jiwa yang terpisah dari Tuhan, dan bertemu setelah ia dikosongkan dari diri dan diisi oleh jiwa ilahi.