Oleh : Iip Saripudin

Berwarnanya hidup memberi arti tersendiri bagi laju kehidupan. Berjuta makna tersimpan rapi di setiap gerak gemulai para penari, mengalir dalam setiap tutur kata bijaksana, terangkai di bait-bait puisi para pujangga. Derai tawa dan air mata menyapa senja di tepian malam, menyentuh tunas-tunas muda yang kian menggeliat menanti untuk berkata-kata.

Menyadari sepenuhnya, bahwa setiap keterbatasan menyimpan pertanyaan, mendorong hasrat mencari jawab atas tanya meski harus berjalan hingga ke penjuru dunia. Dan menyadari sepenuhnya, bahwa hidup bagian dari perjalanan panjang dengan berbagai ragam perbedaan yang sudah sepatutnya disikapi langkah bijaksana, hingga menemukan arah tujuan yang mampu memberikan kedamaian bagi penghuni semesta raya.

Berharap kejujuran masih menjadi tonggak bagi setiap perjalanan menuju harapan, dengan harapan sanggup memberi keteduhan serta kesejukan pada setiap makhluk bersosialisasi demi menggapai cita-cita menuju kehidupan dambaannya. Adapun sikap pembodohan oleh manusia terhadap manusia lainnya masih menjadi bagian dari kenyataan hidup, sebagai bentuk pengingkaran nilai-nilai kejujuran terhadap norma kehidupan yang sejatinya berpegang teguh pada ajaran kebaikan dan kebenaran. Sementara hidup bermartabat merupakan keinginan setiap insan, setiap bangsa di dunia ini, hingga berbagai upaya dilakukan demi terwujudnya cita-cita itu meski harus menjalani proses panjang.

Kebersamaan menuangkan pemikiran dengan perbedaan menyertainya telah menjadi suatu alat bagi kesepakatan yang harus di bayar mahal, dan tak menutup kemungkinan timbulnya pihak korban atau di korbankan demi sebuah kesepakatan. Itulah realitas kehidupan yang seringkali kita saksikan.

Secercah harapan berawal dari sini, tempat dimana kita tegak berdiri mencoba mengerti dan memahami roda kehidupan yang berputar seiring waktu terus berjalan. Dan untuknya banyak ruang dimana kita dapat mengabarkan realita hidup sesungguhnya yang terjadi kini.

Lakukan apa yang harus dilakukan, karena ini merupakan awal dari bentuk kepedulian, yang tercermin dalam pranata kehidupan bermasyarakat dan bernegara berawal dengan peduli terhadap diri sendiri dalam arti yang positif, untuk kemudian tumbuh dan berkembang menjadi suatu kepedulian terhadap sesuatu yang lebih luas.

Membiarkan sikap pembodohan terus berkembang dengan leluasa di sekitar kita, sama saja dengan memberikan peluang terhadap lahirnya penjajahan baru. Sudah semestinya regenerasi menjadi kebijakan mutlak memang seharusnya dilakukan, meski secara perlahan namun pasti, disertai pembinaan pola pikir serta pembekalan ilmu pengetahuan dan wawasan disegala bidang, guna melanjutkan cita-cita yang telah menjadi kesepakatan para pendahulu, dengan persiapan matang yang tak mudah dimentahkan, mengingat kompetisi kehidupan dalam berbangsa dan bernegara terus bergulir.

Pada hakikatnya manusia mempunyai hasrat dan keinginan yang samal, meskipun tak jarang menjumpai perbedaan dalam menyikapinya. Perbedaan pemikiran merupakan anugerah tak terhingga yang sepatutnya disikapi secara bijaksana, sehingga perbedaan itu menuntun ke arah positif, menuju penyelesaian persoalan tanpa konflik berkepanjangan, yang akan menyengsarakan khalayak ramai. Perlu disadari bahwa pemikiran besar tidak lahir begitu saja. Ia terlahir melalui suatu proses panjang. Tumbuh dan berkembang dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Bisa pengaruh lingkungan, religi, tradisi dan budaya serta berbagai peristiwa sejarah, tafakur, perenungan diri maupun nuansa pergolakan batin yang dirasakan, ataupun perjalanan spiritual seseorang dalam mengarungi alur hidup demi pencapaian kehidupan dambaannya.

Tidaklah heran jika hari ini atau suatu hari nanti hadir ditengah-tengah kita pemikiran-pemikiran jenius, sehingga memunculkan perspektif yang belum pernah dijumpai sebelumnya, meski tak mudah untuk dapat menerimanya dalam realitas kehidupan majemuk ini.

Perbedaan pandangan merupakan hal biasa dan seringkali kita jumpai di kehidupan bermasyarakat dan bernegara, dalam bingkai ideologi hingga menimbulkan perhelatan tiada henti guna mencapai tujuan yang dicita-citakan, serta dapat menjadi landasan bagi keberlangsungan hidup dalam sosial kemasyarakatan.

Sepantasnyalah pemikiran-pemikiran demi pembaharuan tidak dipandang negatif, sehingga tak menimbulkan kecurigaan – kecurigaan berlebihan yang berdampak pada pengkerdilan hak manusia untuk bicara dan berpendapat serta mengembangkan pemikirannya demi suatu perubahan keadaan, guna meningkatkan kualitas kehidupan sesamanya.

Perspektivitas atau daya tinjau seseorang terhadap suatu fenomena merupakan hal biasa dan sepatutnya mendapat respon positif, selama hal itu memberi manfaat bagi terselesaikannya berbagai persoalan. Seperti halnya resep masakan, suatu konsep, racikan atau desain yang merupakan kerangka bagi terciptanya sesuatu hal yang sanggup memberi kepuasan tersendiri bagi para penikmatnya, dan terutama sanggup memberi manfaat positif bagi lingkungan sekitarnya.

Kita yang di takdirkan hidup di tempat dengan penuh kekayaan alam, terdiri dari beberapa pulau serta beragam adat dan kebiasaan yang majemuk, tentu memiliki selera berbeda-beda pula. Ada yang berselera masakan manis, asin, asam, pedas, bahkan pahit sekalipun. Atau berselera rasa lain seperti manis pedas, asin pedas, asam pedas, manis asin, manis asam, manis asin pedas, manis asam pedas, dan lain sebagainya. Dan perlu kita akui bahwa itu merupakan anugerah tak terhingga, sehingga patut mensyukurinya.

Semisal suku sunda sebagian besar cenderung menggemari masakan berselera asin atau asin pedas. Suku jawa sebagian besar cenderung menggemari masakan berselera manis, atau manis pedas. Masyarakat minang sebagian besar menggemari masakan berselera pedas, dan banyak lagi suku-suku lain dengan kegemarannya menikmati masakan dengan berbagai selera masakan bervariasi. Namun demikian, bangsa ini telah memiliki resep masakan yang menghasilkan cita rasa tinggi. Di diolah sedemikian rupa melalui proses perjalanan panjang oleh para pendahulu bangsa, yang lebih kita kenal dengan gelar pendiri bangsa, yaitu resep yang telah menjadi kesepakatan bersama. Di masak dalam wajan besar, dibuat dengan cucuran keringat, darah dan air mata bangsa ini.

Adapun perubahan yang terjadi dikemudian hari karena perbedaan selera, sejatinya menjadi hikmah dan disikapi secara bijak dengan pemikiran jernih dan matang, sehingga tidak menimbulkan konflik berkepanjangan.

Banyak wajan-wajan kecil tersedia jika memang memiliki perbedaan signifikan dengan resep terdahulu. Namun sedapat mungkin hal itu tetap bersinergi dengan apa yang telah ada dan dipercaya masih memiliki cita rasa tinggi. Lebih bijak jika masyarakat diberi kesempatan menguji serta mengkaji resep yang di tawarkan. Apakah sesuai dengan selera masyarakat setempat, dalam artian sanggup mewakili dan memberikan manfaat positif baginya, sehingga lebih dapat memberikan rasa keadilan, kedamaian dan kenyamanan dalam menikmatinya.

Semoga analogi ini dapat memberi inspirasi, serta mendorong prespektivitas semua pihak yang memiliki niat tulus serta itikad baik, guna bersama-sama menyuguhkan hari esok yang lebih baik dari hari ini, tentu dengan resiko yang relatif kecil terhadap kemungkinan timbulnya korban sebagai dampak bergulirnya proses, sehingga arah menuju kata akhir dapat dimengerti berbagai pihak serta diterima dengan tangan terbuka. Dan berharap terhindar dari kontradiksio interminis.

Labensrum *) Lingkup ruang bangsa sesuai dengan jumlah dan kepentingannya

Perspektif *) Peninjauan, Tinjauan

Prespektivitas *) Daya tinjau terhadap sesuatu fenomena

Kontradiksio interminis *) Majas memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang dikatakannya semula, yang kemudian disangkalnya lagi dengan ucapannya kemudian.

Sukabumi, Januari 2008

(Diperbaharui pada Bulan Mei 2016)