Pandangan Tentang Agama

Wiranatakusumah mempunyai pandangan yang khusus terhadap masalah agama-agama, khususnya agama Islam. Pada pertengahan 1940-an, ketika Belanda ditaklukkan Jerman dan Ratu Belanda mengungsi ke Inggris, dalam suatu pertemuan khusus, Wiranatakusumah memberikan paparan mengenai agama. Menurut dia, agama dimas itu berada dalam bahaya, bahkan semua manusia dalam keadaan yang demikian, sebab batin yang suci pada sebagian besar manusia sudah mulai lenyap.

“Aliran yang serupa itu harus dicegah. Tentu orang tidak dapat membiarkan manusia dimusnahkan, karena kebatinan yang suci itu sudah lenyap, dank arena keingkaran manusia kepada Tuhan. Jika memang ada cita-cita yang demikian maka sekalian yang masih beriman, semua orang yang masih bercintakan kepada batin yang suci, sudah seharusnya bekerja bersama-sama mempertahankan kesucian agamanya. Demikianlah maka kita berkumpul di sini, baik Kristen maupun Islam ataupun Yahudi dan yang memeluk agama-agama lain, putih dan hitam bersisi-sisi, akan membuktikan bahwa ada Yang Maha Kuasa yang akan memenangkan kebenaran.”

Dalem Bandung mengingatkan pula agar perkataan Islam atau Muslimin, tidak diasosiasikan dengan hal yang buruk-buruk, sebab semua itu tidak ada hubungannya dengan kesucian Islam. Segala informasi yang buruk itu hanyalah akibat perbuatan sedikit orang yang memluk agama Islam yang telah salah memahami perintah dan larangan Islam. Islam menurut dia adalah, “Menjunjung tinggi perintah Tuhan dan cinta-mencintai sesame manusia.” Asas Islam itu menuju damai, cinta, dan persahabatan antar sesama manusia, tidak pandang agama, bangsa atau warna.

Semua aspek kehidupan kaum Muslim sehari-hari adalah ibadah. Tidak ada hari baik dan buruk. Hari tidak dibeda-bedakan, semua hari itu suci, asal hidup dijalankan dengan suci, menurut perintah Tuhan Yang Maha Suci. Apabila kehendak Ilahi dijalankan dengan tawakal maka itulah yang akan membawa keselamatan manusia. “Bahwa sesungguhnya salatku, ibadahku, serta hidup dan matiku, semuanya bagi Allah Tuhan sekalian alam.”

Lalu, bagaimana ikhtiar mencapai keselamatan manusia itu? Dalam pandangan Wiranatakusumah, ialah dengan membangunkan dan memajukan tenaga yang tersembunyi di dalam manusia, atau membangkitkan kesadaran manusia. Manusia mempunyai kecakapan dan tenaga, yang harus dipupuk dan digunakan sebaik-baiknya. Untuk itulah agama diturunkan Tuhan kedunia, dan diutuslah beberapa rasul, sepereti Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad, untuk memimpin manusia kepada jalan yang baik, mengatur persoalan keseharian di atas dunia, menampilkan setiap potensi yang baik dan mulia yang ada pada manusia. Pendeknya, memimpin manusia dari yang gelap kepada yang terang.

Sesuatu yang baik yang ada di dalam tiap-tiap manusia itu adalah nur Ilahi yang ditiupkan Allah ke dalam kalbu. Itulah napas yang asalnya dari Tuhan, dan yang apabila sudah sampai pada kesempurnaannya akan kembali pula kepada Tuhan, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un (Bahwasanya kami dating dari Allah dan kembali kepada Allah).”

Akan tetapi, menurut Dalem Haji, mustika yang dianugerahkan Tuhan itu tersembunyi di dalam lumpur hawa nafsu manusia, yang di dalam keadaan yang senista-nistanya akan menyerupai kekejian binatang. Maka, hawa nafsu itu harus dibentuk dan disucikan sehingga menjadi suci pula. Hanya dengan demikian itu ruh itu dimungkinkan dapat kembali kepada Tuhan. Dan itulah sejatinya tujuan hidup manusia.

(Pikiran Rakyat, SENIN (PON) 1 MARET 2010)

download file