GITAR2

Oleh : Iip Saripudin

September 2008

Suatu hari di depan gerbang sebuah terminal, lelaki kecil dengan riang bermain. Ia mengalunkan sebuah lagu. “Bintang kecil dilangit yang biru, amat banyak menghias angkasa, aku ingin….”. Nyanyian lelaki kecil ini terhenti tiba-tiba. Ia terheran-heran menatap seseorang dalam kerumunan yang dengan berang membentaknya. “Jangan pernah bermimpi untuk berharap terbang keangkasa. Sudah, sebaiknya kau pergi dari sini, cari tempat lain untuk kau bermimpi !”.

Orang itu menganggat tangan dan mengacungkan telunjuknya, sementara lelaki kecil ini hanya terdiam. Wajahnya tertunduk layu, tak bergairah. Di ayunkan kakinya untuk pergi menjauh, sejauh ia bisa pergi untuk melupakan apa yang baru saja terjadi. Malam semakin larut. Angin bertiup, nafasnya menghempaskan daun-daun kering yang berserakan di bawah pohon pinggiran jalan setapak tempat orang berlalu lalang. Di seberang jalan, sungai bergemericik bagai nyanyian hujan ketika senja datang menyapa selamat malam.

Selepas isya, di depan pelataran rumah mewah, lelaki kecil berdiri memandang parade kaki lima yang tak jauh dari tempat ia berdiri. Dipetiknya senar-senar gitar perlahan, dan ia pun bernyanyi. “Ambilkan bulan bu, ambilkan bulan bu, yang slalu bersinar di…”. Tiba-tiba seseorang menghampiri dan menghentikan nyanyian bocah kecil tersebut. Dengan kedua tangan dipinggang, orang tersebut membentaknya. “Berisik !!. Teriak-teriak seenaknya. Mending kalau suaramu bagus, sana ambil sendiri. Enak saja nyuruh-nyuruh orang sembarangan, memangnya kamu ini siapa ?!”.

Lelaki kecil ini diam terpaku. Matanya menatap orang yang memakinya, dan dengan nada lirih ia berucap. “Aku bukan siapa-siapa. Maaf seandainya telah mengganggu ketenangan waktu anda”. Suasana hening sejenak, binatang malam pun terdiam menyaksikan adegan tersebut. Lelaki kecil ini tertunduk, diam tanpa kata. Hanya keheningan dan kebisuan membungkus suasana malam itu. Orang dihadapan lelaki kecil kembali berkata memecah kesunyian. “Nah sudah begitu, diam !”.

Lelaki kecil ini mengangkat kepalanya perlahan dan berucap, kemudian mohon pamit untuk pergi. Malam semakin larut, udara terasa dingin menusuk sendi-sendi keheningan dan kebisuan malam. Lelaki kecil larut dalam kesedihannya. Namun nampak ketegaran di sorot matanya yang tajam menatap jauh kedepan. Menatap bintang-bintang yang bertaburan di angkasa, menatap bulan yang benderang tersenyum menggoda, menatap lamunannya dengan penuh pengharapan. Terucap beberapa kata dari mulutnya yang sempat terkatup. Setengah mengguman ia berkata pada dirinya, berkata pada Tuhannya. “Semoga aku dapat tetap hidup untuk mempertahankan kehidupanku. Semoga Engkau berkenan memayungi hidupku, memayungiku dengan segala kuasa-Mu”.

Embun pagi yang menetes dari ujung dedaunan menyegarkan setiap mata yang memandangnya. Burung-burung berkicau mengucap salam pada mentari yang tersipu malu. Angin berhembus membawa kabar kehidupan kepada setiap yang dihampirinya. Lelaki kecil merapihkan pakaiannya yang lusuh. Seuntai senyum tersungging dibibirnya yang mungil. Digenggamnya angan-angan, di peluknya erat mimpi-mimpi esok hari yang belum sempat ia singgahi. Melangkah perlahan menelusuri pematang sawah yang luas membentang menuju keinginannya. Di ujung pematang sawah, pemandangan pagi hari terbentang. Manusia pagi berbondong tradisi menjalani hidupnya yang penuh warna. Di seberang terminal ia berdiri, menatap para pengabdi negeri dengan seragam lengkap dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia bergumam dan bernyanyi menghibur diri.

“Aku seorang kapiten, mempunyai pedang panjang kalau ber….”.

Nyanyiannya terhenti seketika, manakala seseorang dengan jari telunjuk tepat di depan hidung mengobral kata, mencaci makinya dengan keras.

“Dasar anak tak tahu diri. Badan kurus kerempeng, hidung ingusan, ngaku-ngaku seorang kapiten. Coba ngaca dulu sableng, pantes ng’gak?!”.

Lelaki kecil pun kebingungan, sorot matanya bertanya-tanya. Sejenak ia terdiam tanpa sepatah katapun. Ia tundukkan wajahnya. Jari-jari tangan kirinya mengusap-usap tangan sebelah kanannya. Selang beberapa waktu berlalu, ketika orang yang memakinya berlalu dari hadapannya, ia kembali bernyanyi sambari berjalan.

“Naik kereta api tut tut tut, siapa hendak turut, ke Bandung Sura….”. Seseorang menghentikan langkah kaki dan nyanyian lelaki kecil ini, manakala bentakannya yang keras memekakan telinga lelaki kecil ini.

“Hei goblok, apa yang bercokol di otakmu?! Kamu pikir kereta milik nenek moyang mu, yang dengan seenaknya bisa kamu naiki dengan cuma-cuma?!”.

Lelaki kecil ini terhenyak kaget, wajahnya dipenuhi dengan keheranan, dan mulutnya menganga mendengar makian tersebut. Sejenak terdiam tak dapat bicara. Sementara orang itu masih berdiri tak jauh darinya dengan mata melotot menatap tajam lelaki kecil ini. Lelaki kecil ini pun memberanikan diri untuk coba berucap. “Sungguh aku tak bermaksud seperti yang anda sangkakan. Aku hanya ingin bernyanyi. Ya, aku hanya ingin bernyanyi”. Sementara dari arah yang berlawanan seseorang menghampiri mereka. Matanya yang redup menyiratkan kebijakan dalam dirinya.  “Ada apa ini?”. Orang itu bertanya dengan ramah. Lelaki kecil menjawab, dan mencoba menjelaskan apa yang terjadi. “Aku sedang berjalan dan bernyanyi, tiba-tiba orang itu membentakku, dan ia melarangku untuk bernyanyi”. Orang itu hanya tersenyum mendapatkan jawaban dari lelaki kecil ini. Disertai dengan senyuman orang itu kembali berkata. “Mungkin dia kurang menyukai lagu yang anda nyanyikan. Cobalah nyanyikan lagu yang lain !”. Pintanya dengan ramah. Lelaki kecil ini terdiam sejenak, lalu ia bertanya pada orang tersebut. “Apakah kita sudah merdeka?”.

Orang yang dimaksud menjawab dengan cepat dan tegas.  “Sudah, kita sudah merdeka !”. Setelah mendapatkan jawaban, lelaki kecil pun berpamitan untuk pergi. Orang tersebut berjalan mengikuti lelaki kecil ini. Dengan langkah pasti lelaki kecil ini berjalan menuju terminal. Orang tersebut berjalan mengantarkan lelaki kecil ini sampai di depan pintu gerbang terminal. Dengan perasaan riang tak terhingga lelaki kecil ini berjalan memasuki terminal seraya bernyanyi lagu Indonesia Raya, buah karya WR. Supratman.

Diperbaharui pada tanggal 10 Nopember 2009

Judul Asli : Cerita Anak Indonesia

Penulis       : Iip Saripudin