Oleh : Iip Saripudin

Agustus 2008

Ketika ruang hampa terbuka tiba-tiba serta kesadaran bertengger diantara ketidaksadaran, fase dimana manusia tak kan mampu berkelit atas perbuatannya. Yang ada hanyalah rangkuman pengakuan sejujurnya, bahkan lebih jujur dari kejujuran itu sendiri. Suatu langkah perjalanan menembus ruang dan waktu, meski awalnya tak tahu alasan pun tujuan perjalanan yang kan dilewati.

Satu persatu nada mengalun dihembuskan dari dalam jiwa. Getar seruling mengalun melantunkan berbagai gejolak perasaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata seindah syair para pujangga kenamaan dibelahan dunia. Berharap alam pikiran setiap penikmat getaran nada terlintas secara ikhlas mencerna maksud yang tersirat didalam jiwa. Terdengar begitu menyayat kalbu, mencari kesejatian diri yang terombang-ambing, tenggelam dan terpisah dari jiwa karena larut  dalam kekosongan diri seakan berharap terisi oleh jiwa ilahi.

Apakah sang peniup seruling sedang mencari jiwanya yang hilang, ataukah mencoba merepresentasikan seruling (terompet) mitologis sebagai simbol membangkitkan sesuatu yang terkubur mati karena buah terpisah dari pohon yang telah menjadikannya santapan jiwa yang lapar. Atau bahkan mungkin mencari sesuatu yang tak pernah dijumpai sebelumnya, merindukan bentuk lain sebagai jawaban dari kegundahan, atau hanya sekedar meniup seruling tanpa maksud apapun.

Namun bunyi seruling telah mengetuk pintu hati, memanggil jiwa yang hampa, meggerakkan kaki-kaki, membasuh tubuh menepis debu kehidupan duniawi.

Bait demi bait kalam ilahi mengalir syahdu menembus relung jiwa yang paling dalam, lirih mengiris sembilu, suaranya parau seperti tengah menangisi kepedihan hidup yang senantiasa mendera.

Tumpah ruah pengaduan, seakan tak ada tempat bersandar sekedar merebahkan kepahitan yang dirasakan, berharap keheningan mendengar ungkapan kata hati yang tertancap, terbelenggu dan terbenam didasar jiwa, karena keheningan telah mengundang berbagai pertanyaan.

Dalam tempat yang terpisah, dalam waktu yang bersamaan, namun dalam kehampaan yang berlainan menumpahkan berbagai perasaan, mencari jawaban atas kerinduan hingga terbersit harapan menemukan sesuatu yang selama ini menghilang.

Biarkanlah alunan seruling senantiasa terpisah dari lantunan kalam ilahi, agar kerinduan tetap menjadi kerinduan. Cukup desahan angin dan gemericik hujan  mengiringi kalam-kalam ilahi, karena desahan angin serta gemericik hujan lebih jujur dalam memahami ungkapan perasaan tanpa perdebatan yang menimbulkan arogansi serta kebencian. Jangan persembahkan lantunan kesedihan pada jiwa-jiwa yang luka, karena akan semakin menambah kelukaannya.

Memahami kegaiban tak semudah ketika memahami hewan ternak yang mencari makanan dikebun-kebun serta padang ilalang, dan memaknai kegaiban tak sesederhana ketika memaknai tunas pohon yang tumbuh dipelataran rumah sang begawan.

Jalan mana kau yang pilih untuk menemukan serta dapat memahami apa yang sesungguhnya dicari untuk menyatu dengan kesejatian ilahi, sementara keberadaan Tuhan disetiap kehidupan diperdebatkan sehingga sabda para nabipun  dipergunjingkan, cermin diri dimana jiwa tak mengenali diri sendiri.

Pencarian sesuatu yang hilang dengan metode ritual yang diagungkan membuat penghambaan terhadap ilahi menimbulkan berbagai pertanyaan, karena telah begitu berhamburannya penistaan demi penistaan yang dilakukan manusia, meski jiwa berkata demi mengagungkan sang maha pencipta, tapi terkadang manusia lupa atau sengaja sehingga  kesedihan dan kesenanganpun dimaknai penafsiran tak mendasar, hingga akhirnya menyimpang dari tujuan yang sebenarnya.

Pemakluman terhadap tindakan yang melukai keyakinan tak sesederhana yang diharapkan, tak sebijak yang diinginkan, bahkan ketika manusia menjatuhkan hukuman, pada waktu itu pula manusia berharap agar Tuhan menghakimi dengan cara-Nya tersendiri.

Ketika diantara kita menerka-nerka arah tujuan seseorang, yang timbul dalam benak hanyalah berbagai pertanyaan yang belum tentu dapat dipastikan kebenaran dari arah tujuan dimaksud, karena kita bukanlah dirinya, lalu mengapa kita tak berusaha menanyakannya?.

Berabad-abad silam semesta telah merelakan diri dijadikan media untuk mengenali sang pencipta, namun keangkuhan masih menyelimuti setiap gerak langkah dalam bertasbih.

Apakah kita yang hidup diwaktu kini telah setulus dan seikhlas kelopak bunga yang merelakan setiap saat untuk dihisap sang kumbang?.

Selama berjuta-juta tahun akar pohon telah menerima kodratnya sebagai penerima yang setiap saat rela menelan sari bumi,  dan buah pohon menjalani kodratnya sebagai pemberi yang setiap musim memberikan kehidupan bagi yang mereguknya, sementara manusia berada diantara keduanya.

Tuhan telah menawarkan kepada gunung-gunung, hewan-hewan dan lautan untuk menjadi khalifah (pemimpin) dimuka bumi ini, dan hanya manusia yang berani mengambil resiko menerima tahta dari ilahi.

Kini hutan rimba menjerit lirih karena manusia telah merampas keindahannya, gunung-gunung marah karena manusia serakah dengan keduniawiannya, dan lautanpun memanjatkan do’a hingga berurai air mata. Gemanya dibawa angin yang bergulung, menggumpal membentuk badai, dan secara bersamaan Tuhan bicara menyapa manusia.

Pada saat tertentu siapa mengetahui bahwa satu diantara kita tengah berada dalam dimensi ruang tanpa batas, menerawang jauh,  menjelajahi alam pikiran, melakukan pengembaraan menelusuri jalan yang belum pernah dijumpai sebelumnya. Siapa diri kita, dari mana kita bermula, untuk alasan apa kita berada dibumi ini, dan kepada siapa kita akan kembali. Mencari dan terus mencari hingga batas pencarian berakhir, dari mana sumber keberadaan segala makhluk, dari mana segala sumber datangnya pemikiran dan dari mana segala sumber misteri kehidupan.

Proses penciptaan kehidupan dibumi dengan berbagai kegaiban yang mengiringi hingga kini masih menuai kontroversi. Pembuktian secara ilmiah serta penjelasan secara imanen meyakini bahwa segala yang hidup dialam raya ini bersumber dari zat yang maha sempurna yang kita kenal sebagai Tuhan, Allah SWT, Rabbul a’lamiin hingga kini masih berlanjut dan masih akan terus berlanjut hingga Tuhan mengambilnya kembali kedalam rangkulan-Nya.

Secara keimanan dari sang maha kuasa segalanya bersumber dan kepada-Nya pula semua akan kembali, karena sesungguhnya Tuhanlah sebagai tempat kembali segala yang berada didunia ini, termasuk manusia.  Tuhan membekali manusia akal dan pikiran dalam menjalani kehidupan agar dapat menentukan pilhan. Dan hasrat untuk lebih mengenal Tuhan merupakan bagian dari pilihan hidup manusia.

Kerelaan mengikhlaskan menerima begitu saja pemahaman tentang keberadaan Tuhan dalam kehidupan diyakini sebagian pihak dapat menepis kegelisahan hidup yang dijalani serta dihadapi, karena sebagian pihak lainnya memutuskan untuk memilih tidak mempertanyakan lebih jauh tentang asal usul keberadaan semua yang hidup dialam ini, apalagi mempertanyakan tentang keberadaan Tuhan. Namun demikian berbagai golongan manusia yang hidup dibumi ini meyakini bahwasanya Tuhan senantiasa mengawasi setiap gerak langkah makhluk yang hidup di dunia, karena sesungguhnya Tuhan tak pernah tidur sekejappun, dan bahwasanya Tuhan senantiasa bekerja dengan cara yang misterius, Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki, dan pernyataan tersebut hanya dapat diterima secara imanen. Jangan dikejar dengan logika dan cara-cara  ilmiah saja karena tak kan mudah untuk secepat mungkin dapat menerimanya. Peranan sang maha kuasa dalam setiap gerak langkah makhluk hidup di alam semesta ini dapat diterima secara imanen, dengan demikian tidak setiap persoalan dapat dijelaskan secara ilmiah, tapi juga diterima dengan keimanan.

Penjelasan tentang intervensi Tuhan terhadap aktivitas kehidupan bahkan kematian memerlukan pemahaman yang luas tentang ketauhidan, sehingga tidak terjebak dalam penafsiran yang dapat melunturkan ketauhidan itu sendiri.

Perjalanan panjang yang telah dilakukan manusia pilihan terdahulu setidaknya dapat mendorong sebagian insan dalam menguak tabir kegaiban sang maha penguasa alam semesta. Hingga pada fase tertentu secara imanen dengan bijak manusia bertutur kata bahwasanya dengan lidah-Nya manusia bicara, dengan telinga-Nya manusia mendengar, dan dengan hati-Nya manusia merasakan segala yang dirasakannya.

Kekuasaan manusia hanyalah bagian kecil dari kekuasaan Tuhan yang diberikan-Nya. Sangat tidak bijak jika manusia tak memanfaatkan kekuasaan yang diberikan-Nya untuk menuntun manusia-manusia serta makhluk hidup dibumi ini ke arah yang dapat menyemalatkan kehidupan dari segala bentuk kehancuran. Lalu akan dipergunakan untuk apa kekuasaan yang telah Tuhan berikan kepada sebagian manusia yang hidup di dunia ini?, sedangkan hidup dan mati setiap makhluk adalah mutlak kehendak Tuhan,

Dan Tuhan telah menentukan bagaimana makhluk hidup menjalani kehidupan serta kematiannya, selanjutnya kembali kepada sang makhluk bagaimana  menyikapinya.

Sebagai makhluk Tuhan yang mulia, sepatutnya manusia berusaha bersikap bijak dalam menyikapi timbulnya multi tafsir tentang kegaiban Tuhan yang mengelilingi detak kehidupan, baik kehidupan dilangit ataupun kehidupan dibumi, sehingga proses pencarian makna kegaiban Tuhan dalam setiap kehidupan dapat terlewati tanpa menuai banyak kekisruhan yang menimbulkan pertumpahan darah dan air mata.

Namun ketika secara bijak mengakui keterbatasan keilmuan yang dimiliki tentang ketuhanan serta keterbatasan ketauhidan yang menyertai setiap langkah, sebaiknya tak membahas keberadaan serta peranan Tuhan dalam menentukan setiap gerak langkah manusia di dunia ini.

Dalam kondisi seperti itu secara tulus dan ikhlas kita memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada sang guru yang lebih memahami permasalahan untuk memberikan petuah-petuah bijak, dan lebih bijak jika sementara ini membahas tentang saudara-saudara kita yang tengah dirundung kemalangan karena butir-butir padi yang dikumpulkannya telah berpindah tangan secara paksa karena keserakahan manusia, ada baiknya kita membahas mengapa manusia terperosok kedalam jurang yang kelam, mengapa kepedulian terhadap sesama semakin rapuh dalam kehidupan, mengapa hutan-hutan menjadi gundul sehingga mengancam keberlangsungan kahidupan. Lebih bijak jika kita membahas sesuatu rencana tentang bagaimana cara agar kesejahteraan masyarakat dapat terealisasikan, bagaimana cara mencerdaskan kehidupan masyarakat sehingga kemakmuran dapat  terealisasikan sesuai dengan yang dicita-citakan. Dengan demikian kesempatan manusia untuk mengabdikan diri kepada Tuhan semakin terbuka karena beban hidup yang dipikulnya berkurang.

Mimpi yang hingga hari ini belum dapat terbeli membawa diri berfantasi menjulang diawan tinggi. Hasrat untuk memiliki masih menggelayut seakan ingin merobek ketidakberdayaan dalam merengkuh keinginan.

Untuk tanah kelahiranku, jangan biarkan ketidaktahuan membelenggu keberanian melakukan apa yang seharusnya dilakukan, karena ketidaktahuan merupakan benih ketidakberdayaan. Berusaha dengan kesesungguhan hati agar tak mengulang kesalahan yang sama merupakan langkah bijaksana dalam menyikapi kehidupan untuk dapat lebih mengerti serta memahami kemungkinan  bahwasanya apa saja yang dilihat tak seperti yang diharapkan.

Kebaikan yang telah kalian tanamkan di jalanan, di pasar-pasar, diterminal-terminal, diantara terik matahari, di warung-warung kopi dan dikeheningan malam, jangan biarkan direnggut paksa hingga hilang dalam sekejap tanpa perlawanan.

Kepada kalian yang kemarin sore masih bermain kasti dijalan setapak, jangan biarkan tongkat pemukulmu tergeletak sia-sia, karena esok pagi masih harus menghalau ketidakpastian masa depan, dan kepada kalian yang kemarin malam masih bermain ular tangga sepulang mengaji, jangan biarkan kotak dadu jatuh kedalam sumur karena terlempar kesewenang-wenangan yang memperlakukannya.

Kepada kalian yang kini masih mempertahankan nurani, jangan biarkan teman-teman sepermainan terlena dengan bujuk rayu hingga kalianpun ikut membisu, karena kebisuan adalah bagian dari penderitaan.

Kepada tanah kelahiranku, berteriaklah dengan lantang hingga suaramu menggema di udara dan terdengar keangkasa. Kepalkan tangan-tanganmu agar semua tahu bahwa tinjumu dapat merobek segala bentuk keangkuhan dan ketidakpastian hidup yang mendera.

Tanamkan keyakinan dalam hati bahwa kebersamaan dapat menyibak tirai kelam yang menghadang gerak langkah demi terwujudnya keinginan yang selama ini terpendam, namun jangan menyalah artikan semangat kebangkitan, karena sikap anarkisme harus dapat dikesampingkan selama sikap bijak yang santun masih bisa dijunjung tinggi. Simpan tenaga ketika rasa lelah menghampiri, namun jangan biarkan pikiran terpuruk mati. Laju kehidupan harus tetap dipertahankan, kedamaian mesti diperjuangkan, tapi jangan biarkan keyakinan diperjual belikan, karena jika itu kalian lakukan, pada akhirnya cintapun akan tergadaikan, dan tetaplah ingat bahwa kita bukan manusia yang tak berperasaan dan tak berpendirian.

Kepada tanah kelahiranku, senandung kidung rindu tak henti kudendangkan meski tengah berada dikeramaian hiruk pikuk orang berlalu lalang ditrotoar jalan, dipersimpangan jalan, serta saat berada diantara debur ombak. Kutorehkan kerinduan pada tanah kelahiran di hamparan pasir pantai ketika matahari perlahan mulai tenggelam.

Sayup-sayup desir angin menyapa kerinduan akan teman sepermainan masa kecil di tanah kelahiran. Kerinduan yang teramat dalam hingga tak dapat dilukiskan dengan kata-kata mengingat nuansa masa lalu, suka dan duka yang kureguk ditanah kelahiran jelas terbayang dipelupuk mata, senyum ranum wajah para pencari kayu, canda tawa para penjaja roti yang hilir mudik didepan rumah, serta tawa riang bocah-bocah kecil di tepian sungai tempat dulu kita bermain dan belajar berenang sepulang sekolah. Namun kerinduan itu rupanya harus terpendam dalam-dalam karena waktu memaksaku tetap bertahan menunggu masa tiba, menanti saat yang tepat untuk melepas kerinduan, sementara luka di sekujur tubuh belum terobati, terbalut senyum kehampaan. Namun percayalah tak ada dendam tersimpan. Aku baru akan pergi ketika aku memang benar-benar harus pergi menuju tanah kelahiran. Namun jika kenyataan menginginkan cengkrama, lara dan tawa lebih lama di pengembaraan, juga keadaan merelakanku singgah di tempatku merenung, suatu saat aku akan senantiasa menyempatkan waktu menuangkan kerinduan meski hanya sekejap saja, dan biarkan kerinduan tetap menjadi kerinduan yang tak akan kunjung padam.

Untuk tanah kelahiranku, Merajut do’a berlukis pinta senantiasa mengalir  untuk setiap generasiku. Semoga keakraban masih dapat terjalin dalam bingkai yang terukir indah hangatnya jalinan persahabatan ketika kita saling bertatap muka, berjabat tangan serta bertegur sapa, saling melempar senyum dengan untaian kata yang menyejukkan relung jiwa, sehingga kerinduan semakin melekat disaat jarak terbentang diantara kita.

Senandung lagu-lagu yang sering kita nyanyikan bersama hingga kini masih aku lantunkan dengan sepenuh hati. Semangat hidup yang kalian tanamkan setiap kali bersama selalu terngiang dan menjadi cambuk ketika badai kehidupan mendera hingga dapat bertahan dan terus melangkah maju.

Semoga detik-detik kegetiran hidup yang menyelimuti helaan nafas dapat memupuk ketegaran dan menghapus kedengkian, agar tirani kegelapan dapat tersibakkan setitik sinar terang yang menghampiri.

Mendulang kebahagiaan dalam perjalanan pengembaraan menuju titik harapan menjadi bagian dari  pencarian kehidupan meski kejenuhan melingkupi setiap gerak diri.

Kepada tanah kelahiran, aku sampaikan rindu akan perhelatan ditanah kelahiran, yang mengajari bagian kehidupan dan mengajari kita bersikap dewasa dalam menyelesaikan berbagai persoalan.