Oleh : Iip Saripudin

Januari 2008

Seorang pujangga mengatakan bahwa keindahan adalah urusan seni, kebaikan urusan etika, dan kebenaran adalah urusan agama. Jika kita renungkan lebih dalam, ungkapan tersebut menghadapkan kita pada suatu realitas kehidupan, yang memberikan ilustrasi tentang kesadaran akan hak dan kewajiban manusia, serta makhluk hidup lainnya dibumi ini. Namun terkadang kita merasa tak percaya akan wujud, bentuk dan/atau kondisi dari suatu keadaan yang diharapkan, bahwa sesungguhnya apa yang terjadi dan tampak dihadapan mata adalah suatu kebenaran nyata ataukah hanya fatamorgana. Tak sedikit orang terpedaya dengan apa yang dilihat, didengar, dan dirasakannya. Dari kejauhan kita perhatikan, betapa indah gunung-gunung menjulang tinggi, sungai mengalir menelusuri hutan rimba, bunga-bunga tumbuh berhamparan, jalan setapak yang berkelok-kelok mengajak kita untuk larut dalam suasana alam. Angin berhembus menerpa dedaunan, melambai-lambai menyentuh menyentuh sisi ruang batin, mengajak kita hanyut dalam irama alam dengan rithme yang mengetuk hati, seakan mengajak kita larut dalam suasananya. Namun kenyataan itu tidaklah seperti yang kita harapkan. Karena mungkin setelah kita berada diantaranya, keadaan tak seperti yang kita bayangkan. Suatu ketika kita memandang dan menyaksikan makhluk Tuhan yang gemulai melenggak-lenggok bagai bidadari turun dari kahyangan, berjalan menelusuri pematang sawah bersama teman – teman sebayanya. Bercengkrama serta bertutur kata halus lembut seakan tiada cela, tapi itupun terkadang tak seperti yang kita impikan. Keadaan selanjutnya bisa saja sebaliknya. Seorang lelaki terlihat kekar dengan tubuh tegap layaknya binaragawan mempertontonkan otot-ototnya, tetapi tatkala berucap kata terdengar seperti seorang biduanita. Kondisi tersebut seakan menjawab suatu ungkapan bahwa, apa yang kita lihat tak seperti yang kita dibayangkan. Tapi walau bagaimanapun keindahan sesungguhnya adalah milik Tuhan. Keindahan yang terlihat, terdengar dan terasakan hanyalah sebagian dari keindahan yang dimiliki Tuhan. Namun jangan pernah menanyakan apakah sudah pernah bertemu Tuhan. Seorang manusia meringkuk dalam ruang berjeruji besi dengan terpaksa harus mengakui apa yang tak pernah dilakukannya, karena ia merasa tempat tersebut merupakan tempat paling aman dari sebuah bentuk perlindungan terhadap kemungkinan terburuk apabila berada di alam bebas. Tetapi secara hukum dapat dibenarkan bahwa ia bersalah, dan kesalahan yang dilakukannya adalah mengakui tindakan yang tak pernah dilakukannya. Dalam konteks ini sesungguhnya yang terjadi adalah hukum telah menghukumnya bukan karena ia melakukan tindakan yang dituduhkan, tetapi karena pernyataannya mengakui tindakan yang tak pernah dilakukannya (dibaca:`mengaku bersalah’). Apakah anda merasakan dan menemukan keadilan serta kebenaran yang sesungguhnya dalam peristiwa tersebut?. Atau suatu kondisi menggiring seseorang bertindak egois dengan terpaksa harus menyingkirkan manusia lainnya demi mempertahankan hidupnya, tatkala terombang – ambing di samudera karena sepotong kayu yang mengapung hanya cukup untuk menahan satu beban tubuh manusia, tetapi pada akhirnya tindakan tersebut dapat dibenarkan secara hukum. Apakah tindakan tersebut berperikemanusiaan, dan dapatkah anda menemukan letak kesalahan atau kebenarannya atas nama kemanusiaan?. Dilain tempat dilereng gunung, beberapa orang pendaki bergelantungan dalam seutas tali yang terkait dalam celah-celah bebatuan. Maka demi menghargai hidup, seseorang diantara mereka harus memotong tali, karena jika tidak akan binasalah semua terlempar kedalam jurang. Tindakan tersebut dilakukan demi kemanusiaan. Lalu kisah seorang sopir bus yang dihadapkan pada suatu kondisi dimana ia harus memilih, apakah mengarahkan bus ketepian jalan tatkala remnya tak dapat menahan laju roda yang melaju kencang karena berat bebannya, sementara jurang yang dalam menantinya, ataukah menabrakkan mobil yang berada dihadapannya?. Jika terjun kedalam jurang korban akan lebih banyak berjatuhan dibandingkan dengan menabrakkan mobil yang berada dihadapannya. Tentu tak mudah untuk secara cepat mengambil keputusan dalam kondisi seperti itu. Fakta apapun yang terjadi mungkin akan kita dapatkan kebenaran dari tindakan yang telah dipilihnya demi kemanusiaan. Tapi apakah menabrakkan bus ke mobil yang melaju dihadapannya itu berperikemanusiaan?. Dimana letak kebenaran yang sesungguhnya. Ada ungkapan yang mengatakan, lebih baik menghukum satu orang tak bersalah, dari pada harus menghukum beribu orang yang bersalah. Apakah makna dari perkataan tersebut mewakili keadilan dan kebenaran dalam kondisi yang sangat sulit, seperti kisah sopir bus tersebut diatas?. Seorang pasien terbaring koma dirumah sakit, ia dihadapkan pada kondisi sehingga orang mengatakan bahwa ia berada dalam posisi antara hidup dan mati. Jika dipertahankan hidupnya akan semakin tersiksa sehingga kebijakan yang di ambil adalah mengakhiri hidupnya atas nama kemanusiaan. Dimana letak keadilan dan kebenarannya tatkala kondisi tersebut terjadi dan terpaksa melakukan tindakan mengakhiri hidupnya dengan alasan mengakhiri penderitaannya atas nama kemanusiaan. Apakah tindakan tersebut merupakan suatu terobosan hukum yang telah telah sesuai dengan asas kemanusiaan?. Seorang prajurit dalam suatu pertempuran memohon pada temannya untuk mengakhiri hidupnya karena tak kuasa menahan rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya setelah terkena hantaman peluru, atau terkena ranjau dimedan laga. Dengan memalingkan muka serta mata terpejam, sang prajurit lainnya mengarahkan senjata lalu menarik pelatuk, dor-dor-dor, tewaslah seketika, dan berakhirlah penderitaannya demi kemanusiaan. Bukan tidak mungkin hal itu akan mempengaruhi situasi yang terjadi diluar kondisi beberapa peristiwa tersebut, dimana seseorang melakukan tindakan mengakhiri hidup seseorang lainnya dengan alas an yang tak berbeda, yaitu untuk mengakhiri penderitaannya atas nama kemanusiaan. Sedangkan hidup dan mati pada hakikatnya adalah milik Tuhan semata. Apakah sang pujangga akan merangkai peristiwa tersebut dengan ending cerita “berakhir dengan indah”, seperti pasangan pengantin dimalam pertama. Itu merupakan realitas kehidupan yang pernah atau sering kali kita dengar atau kita saksikan dalam kehidupan ini, dan kita terbiasa menerima begitu saja sehingga kebenaran akan menjadi suatu fenomena yang senantiasa menggelayut dalam benak serta hati nurani kita. Seperti halnya suatu kondisi yang memaksa kita untuk berpikir, tatkala menyaksikan seorang anak manusia dan seekor anak macan, dimana dihadapannya terdapat seekor ayam dan sebuah apel. Siapa menurut anda yang akan memakan apel, dan siapa memakan ayam?, (dikutip dari cerita seorang filsuf). Seorang seniman dan filsuf lainnya mengatakan bahwa, sebuah pernyataan bisa dikatakan benar bukan karena dapat dibuktikan, tapi sebaliknya ia bisa dibuktikan karena benar. Mungkin kalimat tersebut terasa rumit untuk dimengerti jika dibandingkan dengan ungkapan yang menyatakan, lebih baik hidup berkecukupan daripada harus hidup serba kekurangan. Namun mungkin juga kita dapat sepakat, bahwa sesungguhnya kebenaran yang hakiki nyata adanya meskipun tak mudah untuk mendapatkannya. Lorong-lorong gelap yang pernah ditelusuri merupakan bagian dari pengalaman hidup untuk dijadikan tonggak sejarah dalam perjalanan kehidupan yang harus tetap dilalui sebagai cermin langkah-langkah dimasa mendatang. Dalam perjalanan hidup, setiap manusia akan bersentuhan dengan hitam-putihnya dunia, yang senantiasa mempengaruhi alam pikiran dalam bertingkah laku dan bertutur kata, baik secara sadar ataupun tidak, karena hari kemarin adalah kenangan, dan hari esok adalah harapan. Adapun keyakinan merupakan cambuk yang kan memberikan semangat tuk memulai atau melanjutkan harapan tertunda, dan kepastian adalah hal yang memerlukan pembuktian. Biarlah caci maki serta cibiran menjadi bekal dalam perjalanan, sebagai bahan perenungan diri dalam menjejakkan langkah. Semoga putaran roda kehidupan tak terhambat keangkuhan serta kerakusan hidup, dan berharap semua bukan hanya angan-angan, karena perjalanan sejauh apapun jika kita berusaha dan Tuhan mengijinkan, dengan setapak demi setapak melangkah bisa jadi kita raih hingga sampai ketujuan. Namun yang terpenting adalah prosesnya, karena tujuan sesungguhnya akan kita dapatkan manakala menuju arah tujuan. Orang bijak akan mengenali dirinya dengan segala kekurangannya sejauh ia melangkah, dan ia akan merasakan apa yang tak dirasakan sebagian manusia lainnya. Hingga detik ini kita meyakini bahwa sesungguhnya keindahan tetap menjadi milik Tuhan. Meskipun Kebaikan telah ditanamkan, terkadang ia mendatangkan dampak yang tak diharapkan, karena kebaikan yang diiringi kepentingan selalu membuahkan tindakan tak terduga sebelumnya, walau kalian berharap lain. Bahkan kebaikan bisa juga menimbulkan rasa ketidakadilan dintara sesama. Manusia selalu menuntut kesempurnaan karena ketidaksempurnaan yang dimilikinya, namun kalian harus meyakini bahwa sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Tapi apakah angina yang bertiup kencang, menghantam apa saja yang dilaluinya sehingga memporak-porandakan kehidupan dibumi ini adalah kebenaran Tuhan, dan apakah kalian akan menyalahkan Tuhan atas peristiwa alam yang terjadi selama ini?. Jika kalian menganggap itu kesalahan, siapa yang akan menghukum Tuhan, dan apakah dengan demikian kesalahan adalah juga milik Tuhan?. Agamalah yang mengurusi bagian tersebut, karena kebenaran adalah urusan agama, seperti yang diungkapkan seorang pujangga diatas. Dengan agama kalian akan lebih mengenal hakikat Tuhan yang sesungguhnya, sehingga kalian tak terjebak dalam logika berpikir yang serba terbatas. Ada yang dapat dicerna dengan logika, tapi ada pula yang tak dapat dijelaskan dengan logika, seperti hikayat nabi Musa a.s dengan tongkatnya yang dapat membelah lautan. Lalu kisah nabi Isa a.s yang dapat menghidupkan orang yang telah mati, cerita nabi Idris a.s yang setelah wafat dihidupkan kembali, seperti perjalanan Isra wal Mi’raj yang dialami baginda rasulullah Muhammad SAW. Semuanya tak dapat dicerna dengan logika, tapi nyata adanya. Pepatah filsuf mengatakan, orang yang dekat dengan Tuhan akan memiliki sebagian sifat Tuhan. Biarkan perahu melaju mengikuti arah angin, hingga dermaga merindukan kepulangannya. Tapi jangan biarkan anak isterimu terlantar dipelataran rumah dengan seonggok rindu menanti kehadiranmu, sedangkan pohon yang tumbuh dihalaman rumah tak dapat menghilangkan rasa perih karena tak berbuah, atau habis dimakan ulat, dan hewan ternak peliharaan tak dapat ternikmati karena lenyap dibawa lari pencuri. Sementara ikan-ikan di sungai mati terkapar dilahap limbah industri yang tak terkendali, dan burung-burungpun enggan melintas untuk hinggap lagi diladang yang kini tandus karena udara sudah tak bersih lagi. Andai saja tak turun hujan, mungkin rasa haus tak kan hilang karena air dalam sumur telah mengering. Masih banyak yang harus kalian renungi untuk selanjutnya membenahi diri dalam menempuh perjalanan ini, karena hidup belum usai. Genderang perang telah dibunyikan seiring penciptaan Adam dari segumpal tanah, meskipun teori evolusi Darwin menyangkalnya (atas proses keberadaan manusia). Adam-pun harus berperang melawan kesepian dalam kesunyian, hingga akhirnya Tuhan menciptakan Hawa dari tulang rusuknya Adam. Apakah perang berhenti sampai disitu? Tidak!!. Westerling dengan senyum dibibirnya membantai umat manusia hingga terkapar bersimbah darah, seakan ia berkata pada dunia, “akulah Tuhan kalian”. Para jugun ianfu merintih perih, menjerit kesakitan batinnya dengan linangan air mata, tatkala harus dengan terpaksa melayani budak-budak nafsu yang mengantri giliran menjamah tubuhnya, dan seakan mereka berkata ,“kalian adalah suatu keindahan yang tiada tara”. Adolf Hitler dengan suara lantang menyerukan parajuritnya untuk melenyapkan keberadaan manusia lainnya, hingga berserakan dibelahan bumi ini, sekan ia berseru,”kalian tak pantas menghuni bumi ini”. Dilain pihak seseorang dengan sengaja menjerumuskan atau menusuk dari belakang sahabatnya sendiri demi kekuasaan yang diharapkan seakan ia berkata,”akulah kekuasaan itu”. Hidup dan kehidupan tak sesederhana yang kita bayangkan, namun juga tak serumit yang dipikirkan. Seiring perjalanan manusia dan makhluk hidup di ala mini, perangpun terus berlanjut. Dan hakikat perang yang sesungguhnya adalah perang melawan diri kita sendiri, melawan hawa nafsu kita sendiri. Mengapa begitu, kenapa demikian?. Karena perang yang lain berawal dari situ.