Oleh : Iip Saripudin

Diambang batas titik jenuh, aktivitas terasa tak menentu. Terkadang apa yang telah tersirat dan timbul dalam benak menjadi bias untuk dituangkan kemudian dirangkaikan menjadi untaian kata yang dapat dengan mudah dicerna serta diapresiasikan dengan kalimat sederhana, sehingga makna yang terkandung dalam setiap ungkapan kata yang mengalir dapat dengan mudah dimengerti dan difahami arah serta tujuannya.

Harus kita sadari sepenuhnya, bahwa setiap kita mempunyai keterbatasan dalam segala hal. Namun hasrat yang tersimpan tak harus selamanya terbenam dalam jiwa dan pikiran lalu menggumpal dalam otak, bergejolak didasar hati sehingga suatu saat menimbulkan berbagai reaksi tak berkesudahan sebagai respon yang tertunda. Dan disatu sisi keinginan seakan menjadi suatu keharusan agar secepatnya terwujudkan dengan sempurna dalam kenyataan, sehingga tak hanya membuahkan angan-angan saja. Tapi akal sehatpun bicara dan menyikapi angan-angan itu, untuk berharap bahwa ini bukanlah hal prematur yang kemudian hari menjadi perdebatan panjang dengan resiko yang tak pernah diperkirakan sebelumnya.

Ongkos politiknya terlalu mahal bung….!!. Berapa banyak yang harus dikorbankan demi untuk melaksanakan kehendak dengan pertimbangan yang dangkal. Begitu sang politikus berkata ketika wacana ditawarkan untuk segera digulirkan, dan berharap mengerucut pada sasaran yang diinginkan. Sementara dipojok-pojok sana para aktivis berkumpul, mereka-reka keinginan, mendesain cita-cita agar keinginannya dapat terealisasikan sesuai dengan apa yang diharapkan. Semua itu tak semudah yang dibayangkan.

Pernyataan sikap bukanlah sesuatu yang sakral untuk segera disikapi, karena ada suatu proses dalam mempertimbangkan keputusan untuk mencapai kata akhir.

Sepakat untuk bersepakat, atau sepakat untuk tidak bersepakat hanyalah fenomena yang seharusnya menyadarkan bahwa diantara sesama kitapun akan selalu terdapat perbedaan. Namun demikian bukan berarti kebebasan berpendapat serta kebebasan untuk berbeda menjadi alasan perbuatan tanpa alasan yang jelas dan pada ekhirnya akan mengorbankan hajat hidup orang banyak.

Hati kecil berkata agar sebaiknya berbicara tentang bagaimana caranya rakyat dapat merasakan dan menikmati hasil jerih payah para pendahulu yang telah bersusah payah mengucapkan kata “MERDEKA” dengan linangan air mata serta tetesan darah tak terhingga.Bagaimana caranya rakyat dapat hidup layak dan hidup dengan layak seperti apakah yang pantas dirasakan sesuai yang diamanatkan.Bagaimana nasib generasi bangsa jika tidak diberikan peluang untuk mendapatkan kesempatan berperan aktif menyikapi berbagai persoalan yang datang menghantan tak henti-henti?. Adakah ruag yang proporsional untuk generasi muda bangsa ini?.

Sangat tidak bijak andai sikap pembodohan terhadap masyarakat masih dipertahankan, apalagi dikembangbiakkan secara sistematis sehingga menimbulkan penjajahan bentuk baru yang akan menyengsarakan rakyat banyak.

Hati kecilku berteriak memohon agar jangan membiarkan masyarakat terbelenggu dalam ketidaktahuan tentang apa yang tengah terjadi kini. Jangan biarkan anak-anak bangsa terpojok dengan rasa ketakutan.

Katakan pada penguni nusantara bahwa mereka mempunyai hak bicara dan mempunyai hak perlindungan dimata hukum.

Diantara generasi bangsa yang tumbuh hari ini akan menjadi pemimpin dan mereka akan berdiri di garda terdepan dikemudian hari. Jangan biarkan bangsa dan negara ini hancur luluh lantak hanya karena generasinya tak cerdik, baik dalam bersikap, berpikir, maupun dalam memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk diikuti dan dilakukan.Dan akupun tak berharap suatu hari nanti aku bercerita kepada anak cucuku bahwa disini pernah berdiri sebuah negara yang bernama “Indonesia”.