Oleh : Iip Saripudin

April 2008

Gelegar cemeti menempa relung jiwa semakin bertubi-tubi menghantam sisi hati, mengoyak keheningan dikegelapan malam saat rembulan tertutup awan hitam hingga mencurahkan butir-butir kesejukan. Nyanyian malampun sesekali terdengar tatkala hujan mereda, lalu terhenti sejenak saat angin berhembus kencang bersama derasnya titik-titik air yang menghujam penghuni bumi. Manusia pagi berbondong tradisi memikul beban hidup dan kesenangan diri, mengayunkan langkah-langkah menelusuri jalan setapak mencari makna kesejatian demi memperjuangkan keinginan serta asa yang senantiasa menggelayut dipelupuk mata dan bersarang didalam kalbu meskipun badai kehidupan tiada henti menggoda sisi ruang batin yang setiap saat dapat menghantam ketegarannya. Sejenak helaan nafas panjang mengitari keresahan ditengah perjalanan, adapun tekad masih harus dipertahankan dan berharap langkah tak berubah arah, karena tujuan yang di tempuh sebagian besar memiliki kesamaan. Namun jika masih ada keyakinan lain, jalan terbaiklah yang patut direnungi. Burung-burung kini tengah bernyanyi resah dalam kegundahannya,sementara jerit kesakitan membahana,mencabik-cabik ketidakadilan yang tampak hingga menembus relung-relung jiwa dimana kedamaian telah terusik. Jika saja tak cukup pintar merangkul dayung, kapal-kapal yang di kehendaki tak kan melaju sesuai hasrat yang dimiliki, kecuali kalian selalu menambatkan harapan terhadap kerelaan sang angin meniup layar yang baru saja kalian rajut, sedangkan tali yang sesungguhnya kalian butuhkan kini menunggu tegur sapa serta sikap bijakmu. Kondisi apapun yang terjadi berharap tak akan menyurutkan semangat perjuangan demi perbaikan keadaan menuju arah yang lebih baik. Menyibak tabir perjalanan secara beriringan akan lebih terasa indah meski pertikaian harus mewarnai proses pendewasaan, dan tujuan yang sesungguhnya adalah hidup berdampingan saling mengisi ketidakberadaan diantara kita, meski ketidakberdaan yang ada dalam pikiran kita belum tentu sama dengan ketidakberadaan yang bersemayam dalam benak manusia lainnya. Alampun kini berbahasa, lebih tegas menyikapi tingkah laku manusia dengan berbagai reaksinya, karena sepertinya ia tak ingin hanya berdiam diri menerima perlakuan yang tidak sepadan dengan apa yang telah manusia dapatkan, ia pun bertutur kata setelah menyaksikan keanekaragaman bentuk ketidakpedulian serta  keserakahan yang bertebaran, mengakar hingga kepenjuru jiwa, karena mungkin Tuhan tak diutamakan lagi dalam kehidupan. Simbol-simbol perdamaian, kebersamaan serta keadilanpun hanya menyisakan kerapuhan hingga akhirnya menjadi bahan lelucon yang tak cerdik. Bangkit dari keterpurukan yang di suarakan menjadi bahan guyonan karena kelengahan dalam menyikapi persoalan kehidupan yang bergulir disekitarnya. Rasa lapar serta dahaga senantiasa berhimpitan dengan kondisi ketidakberdayaan merespon kompetisi dalam kehidupan sehingga otak terpengaruh melakukan berbagai tindakan emosional serta mendorong sikap anarkis dengan alasan klasik demi mempertahankan hidup karena tak berharap selamanya harus terhempas, tersisihkan serta terbuang dari lingkaran kehidupan. Berusaha memahami arti keadilan lebih rumit daripada  menyikapi hasil tolak ukur kelayakan menikmati kehidupan yang sepantasnya didapatkan, dan kelayakan hidup menjadi pertanyaan besar karena pikiran selalu dibayangi rasa ketidakadilan. Kontribusi yang signifikan terhadap kemiskinan agar kecerdasan bangsa meningkat seiring perkembangan jaman hingga kini masih menjadi impian, entah kapan terwujud nyata dalam kehidupan. Rasa kekhawatiran yang berlebihan menjadi pengasah pedang sehingga menumbuhkan benih permusuhan dan kecurigaan terhadap sesama. Akal sehat terkesampingkan,sementara ketidakpedulian semakin marak dikehidupan, mendorong nafsu bersikap individualis. Dawai-dawai gitar memercikkan kegalauan yang amat dalam karena kerinduannya akan kedamaian bersanding hidup diantara gejolak jiwa yang sebagian telah terenggut kembali oleh keangkuhan sehingga kini semakin menepi dan hampir terkulai dengan mulut menganga, mata meredup dengan tatapan hampa menerawang  jauh kesana,  menembus batas ruang dan waktu, mencari-cari makna pertikaian anak manusia dengan berbagai keyakinan sebagai bahan perrtimbangannya. Menggeliat anak cucu pertiwi disertai isak tangis, bahkan juga tepuk tangan riuh rendah dengan karangan bunga mengitari pelataran altar yang digunakan sebagai tempat ritual. Entah untuk apa ritual itu dilakukan, apakah seremonial menyambut lahirnya sosok baru ataukah ritual pemakaman (Semoga saja apa yang dilakukan bukanlah ritual pemakaman atas wafatnya kehidupan berdemokrasi di tanah air ini). Untuk sejenak bintang – bintang angkasapun tertegun, dan kerlipnya yang bersahaja senantiasa menyapa, seakan ia berfatwa : Janganlah berberat hati merelakan keinginannya untuk memberikanmu peluang kehidupan hingga dapat berdiri sendiri dalam menentukan sikapmu yang bergelora , sementara kalian belum juga mengerti keyakinan atas apa yang dilakukannya    terhadap   kalian.  Dan  percayalah   bahwasanya sinar terang akan terus mengiringi serta membimbingmu menuju titik harapan yang kalian inginkan. Cinta tak selamanya mengharuskan dua insan berbeda untuk bersatu, namun kasih sayang dan kesungguhan mewujudkan impian bersama dapat tetap diperjuangkan meski harus bergerak diantara bayang-bayangnya. Prinsip perjuangan telah diteriakkan, ikatan emosional takkan terpisahkan karena keikhlasan telah bersemayam sekian lama dalam nurani untuk saling memberi, dan martabat bangsa ini menjadi pertaruhan langkah-langkah yang di pijakkan. Bangsa yang besar akan terjaga kebesarannya dengan tindakan nyata,  bukan hanya dengan bicara saja meski manusia hanya dapat berencana karena pada hakekatnya Tuhanlah yang menentukan mana yang baik dan mana yang lebih baik melalui tangan-tangan bijaksana. Kekisruhan yang menyelinap diantara kedamaian adalah bumerang  yang harus difahami serta disikapi dengan keluwesan berpikir dalam menentukan sikap sehingga kerukunan dapat tetap terjalin, mengikat tali persaudaraan antara sesama. Kami rindu alunan nada yang memberikan motivasi bagi kemajuan pola pikir meski harus berimprovisasi, namun harmonisasi harus tetap dijaga demi mempertahankan keindahannya hingga tak terkesan kaku dan monoton. Selama tak menyimpang dari tujuan semula kenapa tidak untuk coba jalani dengan segala konsekwensinya atas berbagai kemungkinan yang akan terjadi nanti. Berharap nurani tak terhinggapi kesombongan hidup, serta kebulatan tekad senantiasa menghiasi relung-relung  jiwa agar apa yang telah  didapatkan selama ini memberikan arti bagi keberlangsungan hidup untuk melanjutkan perjalanan. Biarkan burung – burung camar berceloteh tentang kemunafikan, sementara kenaifan mereka sembunyikan dibalik wajah-wajah yang menyeringai, padahal keyakinannya tengah dilanda keresahan berbalut ketidakpastian. Tatkala Sederet generasi bangsa menyulut kehangatan, laju roda terhambat keragu-raguan berbalut ketidakpercayaan, namun janganlah kalian hiraukan karena tekad yang tertanam dalam keyakinan menjadi bekal perjalanan dengan mempertimbangkan etika dalam pencarian kesejatian diri.  Pengalaman hidup adalah pengetahuan yang termiliki untuk meluluhkan kerasnya kehidupan, jangan biarkan kegelisahan terus bersarang dalam benak hingga menggeser keyakinan karena kalian tak berharap langkah yang terpijakkan terayun ragu. Tekad yang bulat serta tulus ikhlas demi terwujudnya suatu kehidupan yang di inginkan tak harus goyah hanya karena terpaan angin yang berhembus dari arah yang lain. Keadilan dan kemakmuran adalah harapan yang harus menjadi titik awal motivasi agar mendorong tindakan yang mengarah pada terwujudnya keinginan.