Oleh : Iip Saripudin
Januari 2008

Putih merupakan simbol dari kesucian, kemurnian serta ketulusan, sehingga dapat diartikan bahwa putih berarti suci atau bersih tiada noda. Kata putih banyak dipergunakan para ahli bahasa dan juga seniman untuk mengungkapkan keindahan serta ketulusan. Bahkan para remaja yang sedang kasmaran tak jarang menggunakan kata putih untuk mengungkapkan bahasa kalbunya. Tapi jangan merangkaikan kata putih dengan satu kata lainnya sehingga membuahkan kalimat yang hasilnya dapat menimbulkan masalah. Meski kedengarannya kalimat itu tidak rancu tapi dapat menimbulkan “kerancuan”. Mengapa begitu?.
Jawabannya adalah karena kalimat itu akan menggiring pada suatu keadaan yang tidak diharapkan sebagian pihak lainnya sehingga memicu situasi pada suatu kondisi yang kurang atau tidak kondusif.
Satu kata lainnya yang dimaksud untuk disandingkan dengan kata putih ini adalah kata golongan, sehingga jika kedua kata tersebut digabungkan akan membuahkan kalimat “golongan putih”. Anda boleh tidak bersepakat dengan jawaban tersebut, karena memang masih banyak kata lainnya yang dapat disandingkan dengan kata putih ini, diantaranya yaitu kata “kerah”, sehingga jika dua kata tersebut digabungkan akan menghasilkan kalimat “kerah putih”.
Tak ada lagu yang tak indah, tapi sebagian pihak beranggapan ada lagu yang tak indah atau tak enak untuk didengar, karena semerdu apapun sipelantun lagu membawakannya tetap saja terdengar sumbang.
Lagu itu berjudul golongan putih, karya anak negeri yang terdzalimi. Anda boleh saja melantunkan lagu itu, tapi janganlah secara terbuka dan terang-terangan, karena bukan hal yang tidak mungkin akan menyuguhkan kekisruhan. Sebaiknya lagu itu cukup dilantunkan di kamar mandi, dan biar orang rumah saja yang mendengarnya. Mengapa demikian?.
Kita boleh berbeda, tapi beda yang ini lain karena ada rambu-rambu yang tidak menghendaki hal itu terjadi, meski tak harus membuat sepanduk dengan ukuran
besar bertuliskan “DILARANG BERBEDA !”, atau dilarang bernyanyi lagu beda.
Anda tidak akan dilarang untuk menanyakan hal tersebut kepada para ahli dibidangnya, dan anda tak akan dikenakan sanksi untuk sekaligus mempertanyakan, apakah hal itu merupakan bagian dari hak anda dalam berdemokrasi, ataukah hal itu merupakan pengecualian dalam hidup berdemokrasi.
Apa yang kita lihat tak seperti yang kita harapkan, dan apa yang kita harapkan mungkin tak seperti yang kita inginkan. Seperti kisah atau cerita isteri Nabi Ibrahim As ketika melihat hamparan air di gurun pasir yang ternyata hanya fatamorgana. Harapan telah terpenuhi dengan terlihatnya air, tetapi harapan tidak terlengkapi karena kenyataan tidak seperti yang diinginkan.
Diibaratkan berkerumunnya orang dalam suatu hajatan rakyat, apa yang terlihat mungkin saja sama seperti cerita isteri Nabi Ibrahim As ketika melihat hamparan air di gurun pasir yang ternyata hanya fatamorgana. “Ada tapi tidak ada”, dan peristiwa itu biasanya disambut para hadirin dengan teriakan huu….!!, atau heuu….!!.
Mungkin hal tersebut tak perlu dijelaskan, tapi jika anda merasa itu perlu, tak ada salahnya untuk dijelaskan, dan penjelasannya sederhana saja. Kalimat ada tapi tidak ada sama dengan memilih untuk tidak memilih atau sama dengan memilih tapi sebenarnya tidak memilih.
Pertanyaannya adalah : 1. Adakah peraturan atau hukum yang mengatur tentang tindakan tersebut?
2. Sudah adakah orang yang dikenakan sanksi hukum karena tindakan tersebut?
Jika saja peristiwa tersebut diatas dibalik sehingga menghasilkan kalimat “tidak ada tapi ada”, mungkin persoalannya akan lain. (apakah anda dapat membantu mencarikan kata atau ungkapan lain untuk hal seperti itu?).
Semoga anda akan bersepakat untuk kasus seperti itu sebaiknya dibicarakan dan dibahas ditempat yang telah disediakan. Mungkin para jaksa atau hakim dapat memberikan kalimat yang tepat untuk mengganti kalimat dimaksud.
Kenyataan telah mengatakan bahwa tak selamanya putih itu suci atau bersih, ia harus rela dikorbankan untuk dijadikan simbol kekecewaan serta ketidakadilan.
Golongan putih bukanlah organisasi masyarakat (Ormas) atau organisasi sosial politik (Orsospol) , bukan pula lembaga sosial masyarakat (LSM) karena tidak memiliki Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART), namun keberadaannya akan selalu menghiasi perpolitikan di negeri ini sebagai manifestasi dari rasa kecewa, ketidakpercayaan serta ketidakadilan. Dan anda boleh tidak bersepakat dengan pernyataan tersebut.
Namun kenyataan telah mengatakan bahwa golongan putih merupakan stempel dari kekecewaan, ketidakpuasan serta ketidakadilan yang dirasakan oleh satu atau sekelompok orang dalam suatu proses berdemokrasi.
Tidak ada larangan untuk berbeda, karena anda berhak untuk itu. Dan anda juga tak dilarang untuk meneriakkan perbedaan, asalkan jelas alasannya agar argumentasi anda tidak mudah terbantahkan. Tapi ingat satu hal, bahwa dalam realitas kehidupan berdemokrasi di negeri ini kenyataannya ada pengecualian untuk meneriakkan perbedaan.
Mungkin kita telah mengenal rangkaian kata yang menyatakan “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”, tetapi apakah kita sebagai warga negara Indonesia telah dapat dengan tepat memanifestasikan sila ke empat dari Pancasila yang merupakan salah satu pilar hidup dalam berdemokrasi?. Bagaimana anda menjabarkan atau mengejawantahkan sila tersebut dalam kehidupan berdemokrasi sehingga sesuai dengan substansinya?.
Maka dengan segala ketulusan dan kerendahan hati, bagi mereka yan telah mengerti persoalan ini secara mendalam kiranya dapat secara bijak menyikapi berbagai persoalan yang timbul serta memandang peristiwa yang terjadi sepanjang perjalanan sejarah bangsa ini tak lebih hanyalah suatu proses pendewasaan dalam rangka menciptakan iklim kehidupan masyarakat yang lebih baik, sehingga mencerminkan rasa kemanusiaan, persatuan dan keadilan bagi segenap rakyat, sehingga keberadaannya dapat teruji secara mikro maupun makro untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa di mata dunia.

Satu-satu daun berguguran jatuh kebumi dimakan usia, tak terdengar tangis tak terdengar tawa, redalah reda. Satu-satu tunas muda bersemi mengisi hidup gantikan yang tua, tak terdengar tangis tak terdengar tawa, redalah reda.
Kalimat diatas adalah syair lagu yang dinyanyikan seniman negeri ini, untuk mengabarkan realita dalam siklus kehidupan.
Akan dibawa ke arah mana generasimu agar masa depan bangsa ini berkilau terang, sehingga para pendiri serta pejuang bangsa dapat tersenyum bangga dan berkata “Inilah Indonesiaku”.
Tunjukkan pada dunia bahwa generasimu akan mampu menghalau badai yang datang memporak porandakan moral bagsa ini, dan buktikan pada rakyatmu bahwa kau percaya pada generasimu untuk melanjutkan cita-cita perjuangan bangsa ini dengan segenap kesungguhan serta keikhlasanmu. Kepercayaanmu adalah kunci untuk membuka gerbang sehingga dapat memasuki ruang untuk mengisi kemerdekaan ini.
Mengalirlah seperti air, dan berhembuslah seperti angin dalam menelusuri dimensi ruang sehingga dapat menemukan apa yang kita cari selama ini.