Oleh  : Iip Saripudin

Embun pagi yang menetes dipagi hari masih diiringi isak tangis tangan-tangan mungil disudut-sudut desa. Matanya yang bening menatap pilu langkah-langkah teman sebayanya yang riang gembira, berseragam rapih dengan topi membungkus kepala dan dasi melingkar di leher, dihiasi  berbagai corak sepatu yang membalut kakinya. Bersenandung bagai burung nuri yang hinggap di dahan-dahan pohon dengan terpaan semilir angin berhembus menyapa selamat pagi pada dunia. Bendera merah putih berkibar di ujung tiang tertinggi, dihadapan barisan muda yang berderet rapih dengan sorot mata yang tajam memberi penghormatan. Senyum ramah, tegur sapa, tutur kata yang halus lembut berbudi bahasa menjadi pemandangan yang elok dan tak mudah untuk terhapus dalam ingatan. Tak nampak kesombongan dan keangkuhan yang tersirat dari wajah-wajah pejuang kebenaran yang setia dan sabar menuntun serta memberikan petuah-petuah bijak pada anak-anak negeri yang haus akan pengetahuan. Terpancar rona kesabaran serta ketulusan dari setiap gerak langkah para pengabdi negeri yang tak kan rela menyaksikan para penerus bangsa teraniaya dan terbinasakan kehidupannya karena ketidaktahuanya.

Rangkaian kalimat diatas hanyalah sebagai mukadimah, dan selanjutnya……

Suatu hari diruangan kelas sebuah sekolah, setelah para siswa mengikuti upaca bendera yang rutin dilaksanakan sekali dalam seminggu, seorang tenaga pendidik menyapu pandangannya keseluruh ruangan kelas. Diambilnya sebuah buku daftar hadir siswa untuk kemudian memanggil satu persatu anak didiknya.

“Apakah Agus M, Dedi, dan Saepudin Zuhri hadir?”.

Siswa yang dipanggil namanya menjawab dengan tenang.  “Hadir!”.

“Asep Saepudin hadir?”.

Beliau memanggil nama murid lainnya, dan sang muridpun menjawab dengan penuh semangat. sebentar kemudian beliau memanggil anak didiknya yang lain.

“Ujang Mangkudiningrat, apakah hari ini ada?”.

Dengan cepat yang merasa namanya dipanggil menjawab.

“Aya!”.

Beliaupun tersenyum mendengar jawaban anak didiknya. Sesaat kemudian ia melanjutkan memanggil siswa-siswinya.

“Apakah Ucok Harahap hadir?”.

Dengan suara lantang Ucok  menjawab.

“Horas pak !”.

Beliau terdiam sejenak, lalu membaca kembali buku daftar hadir yang berada dalam genggamannya dan memanggil anak didiknya yang lain.

“Apakah Padamoro hari ini hadir di sini?”.

Padamoro menjawab dengan semnagat.

“Ono pak !”.

Kemudian beliau melanjutkan mengabsen anak didiknya.

“Buyung Suherman hari ini hadir?”.

Anak didik yang dipanggil namanya berteriak lantang.

“Ado !”.

Sementara itu disudut ruangan kelas tersebut seorang siswa terlihat tengah asyik membaca buku bacaan yang terletak di mejanya. Sang pendidik dengan pandangan mata bertanya-tanya memanggil siswa tersebut.

“Jaka Winarno hadir?”.

Yang dipanggil tak segera menjawab. Teman yang berada disampingnya mencolek tangan Jaka.

“Jak, dipanggil guru tuh!”.

Kontan saja Jaka gelagapan, dan dengan cepat iapun menjawab.

“I’m here for you my friend”.

Orang yang berdiri tegak didepan kelas mengernyitkan keningnya.

“Apa gerangan yang sedang kau baca my friend?”.

Jaka bergegas menjawab pertanyaan lelaki yang tangah berdiri tegak di hadapan para siswanya.

“Aku membaca cerita tentang pertempuran”.

Beliau menatap wajah Jaka, kemudian melanjutkan pertanyaannya.

“Pertempuran apa yang kau maksudkan?”.

Jaka dengan kesigapannya menjawab pertanyaan tersebut.

“Pertempuran untuk menuju kemenangan”.

Tanpa menunggu penjelasan lebih panjang, beliau melanjutkan untuk memanggil Siswa-siswinya. Di lihatnya kembali buku daftar hadir anak-anak didiknya yang berada digenggamannya, dan beliau memanggil kembali anak didiknya.

“Apakah Pramoto hadir hari ini?”.

Yang merasa namanya dipanggil kontan menjawab dengan tegas.

“Saya hadir!”.

“Apakah Serli Yulianti, Nugie Arsya Putra, Salsabila hari ini hadir?”, panggil beliau selanjutnya.

Anak-anak didik tersebut serempak menjawab.

“Hadir!”.

Setelah selesai memanggil seluruh siswa-siswinya, proses belajar mengajar segera dimulai. Suasana kelas terasa hangat, para siswa terlihat antusias untuk mengikuti pelajaran yang akan diterimanya.

Seorang anak didik diminta maju kedepan untuk membacakan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dihadapan teman-temannya.

Siswa yang mendapatkan tugas segera melaksanakan apa yang diminta, dan iapun membacakannya dengan lantang :

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA

REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

PEMBUKAAN

(Preambule)

Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Suasana hening sejenak, siswa dipersilahkan untuk kembali duduk ke tempatnya semula. Sang pendidik menghela nafas panjang, selanjutnya meminta para siswa-siswinya untuk melihat burung garuda yang diletakkan di atas papan tulis, lalu beliau berkata.

“Apakah kalian tahu apa arti dan maksud dari untaian kalimat Bhineka Tunggal Ika?”.

Para siswa dan siswi menjawab dengan serentak.

“Tahu…!”.

Sang pendidik terlihat lega mendengar jawaban dari para Siswa-siswinya. Lebih lanjut beliau memaparkan beberapa hal mengenai prinsip dasar negara Republik Indonesia yang termaktub dalam UUD 1945 pasal 28 yakni :

Pasal 28

Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.

Para siswa-siswi menyimak dengan penuh perhatian segala apa yang disampaikan.

Beliau meneruskan penjelasan mengenai hal-hal yang berkenaan dengan UUD 1945, selanjutnya mengakhiri penjelasannya dengan berkata kepada para anak didiknya.

“Sebagai bahan pekerjaan rumah (PR), setiap siswa diberikan tugas untuk membaca UUD 1945, kemudian mendiskusikannya dengan teman-teman kalian”.

Seluruh siswa-siswi yang hadir menjawab secara bersamaan.

“Siap laksanakan!”.

Selanjutnya beliau berpesan kepada para siswa-siswinya.

“Untuk itu mari kita sama-sama belajar untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa dan negara, karena Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, apabila kaum itu tidak berusaha merubah nasibnya sendiri. Untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang bermartabat dimata dunia, perlu kiranya melakukan tindakan-tindakan nyata, dan tanggung jawab tersebut terletak di pundak para generasi bangsa ini”.

      Indah terasa jika saja manusia mengerti akan peradabannya, tahu akan tujuan hidupnya dan memahami kewajibannya terhadap sesama umat manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini. Hutan, gunung, sawah dan lautan adalah hamparan kekayaan bumi pertiwi yang tak terhingga nilainya, telah diwariskan para pejuang kemerdekaan yang rela meneteskan keringat dan darahnya demi kemakmuran bangsa. Selanjutnya bagaimana para generasi muda menyikapinya.

Diperbaharui pada Mei 2009

di Cibadak, Sukabumi